Alkisah ada seorang badut berhidung besar berwarna merah yang suka menghibur teman-temannya. Ia sangat suka melucu dan tertawa.Teman-temannya pasti ikut tertawa jikalau melihat hidung besar merahnya bergoyang-goyang sembari ia bercerita lucu.
Karena lelah tertawa bersama teman-teman, malam harinya sang badut tertidur pulas.
Karena terlalu lelah, sang badut bangun kesiangan. Alangkah terkejutnya ia, hidung besarnya yang berwarna merah sudah tidak ada. Ia pun bingung mencari kesana-kemari. Ia mencari di bawah tempat tidur sampai di dalam lemari. Tidak ketemu juga. Ia pun merengut sedih. "Badut main yuk!", tiba-tiba terdengar suara teman-temannya memanggil badut untuk bermain. Dengan terburu-buru, sang badut meninggalkan rumah tanpa sempat berpamitan kepada Ibunya
Karena hidung besar merahnya hilang, anak-anak tidak lagi tertawa saat ia bercerita lucu. Ia pun semakin sedih karena tidak dapat menghibur anak-anak itu lagi.
Sang badut mulai menangis. Ia tak tahu harus berbuat apa. Ia memutuskan untuk pulang ke rumah.
Sampai di depan rumah, sang badut mengetuk pintu. "tok tok tok". Pintu terbuka, lalu muncullah sang ibu dari dalam rumah. Ibu badut yang keheranan bertanya, "Hai anakku, kenapa kamu menangis?". Sambil terisak badut menjawab, "Hidung merahku bu. Hidung besarku yang berwarna merah hilang". Ibu badut lalu tersenyum dan menuntun sang badut masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah, Ibu badut mengambil sesuatu dari atas lemari. Sebuah benda bulat berwarna merah. Oh ternyata itu hidung si badut! "Ini Ibu temukan terjatuh di lantai kamarmu saat Ibu menyapu di pagi hari. Kau tidur terlalu pulas, sampai-sampai tidak menyadari hidung merahmu lepas dan jatuh ke lantai. Dan karena kau bangun kesiangan, kau jadi tidak tahu kalau hidungmu ibu simpan agar tidak hilang ", ujar Ibu badut. "Aaah, kenapa tadi pagi ibu tidak mengatakannya padaku?". Tanya sang badut. Dengan sabar Ibu badut menjawab, "Ibu sudah mau mengatakannya, tapi kan sehabis bangun tidur kamu langsung terburu-buru pergi bermain. Tidak pamit ibu lagi".
Sang badut menyesal atas perbuatannya. "Maafkan badut bu", kata badut. "Yasudah, lain kali jangan di ulangi. Bangun kesiangan itu tidaklah baik. Apalagi pergi terburu-buru tanpa pamit". Ujar ibu menasehati. Sejak saat itu sang badut berjanji untuk tidak bangun kesiangan, tidak terburu-buru saat akan pergi serta tidak lupa pamit kepada Ibu.
Karena hidung besar berwarna merahnya sudah ketemu, sang badutpun dapat kembali menghibur teman-temannya dengan tawa, canda, dan cerita-cerita lucunya. Sekarang sang badut tidak murung lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar