Saya tak akan bermanis-manis tentang hari terakhir. Sebab ini bukanlah perpisahan. Tak ada yang perlu ditangisi, tak ada yang perlu disesali. Di penghujung bulan ini, izinkan saya untuk mengingat kembali. Apa yang menjadi tujuan saya untuk ada disini. Di sebuah kota, dengan berjuta suku dan agama. Yang berbaur, terkocok dalam satu adonan yang bernama Yogyakarta.
Entah apa yang pertama kali ada di benak saya ketika pertama kali menginjakkan kaki. Sama sekali tak terpikirkan untuk melanjutkan studi di kota ini. Saya lupa berapa usia saya kala itu. Yang saya ingat, kota ini adalah kota yang unik. Sama sekali berbeda dengan kota kelahiran saya, Balikpapan.
Yogyakarta bisa menjadi semacam pelarian. Mungkin itu alasan kakak saya untuk memutuskan melanjutkan sekolahnya disini. Ia terbang dari Balikpapan ke Yogya untuk belajar di Sekolah Menengah Atas Stella Duce. Kala itu saya ikut mengantar, dan setelahnya Yogyakarta sering menjadi tempat tujuan berlibur saya dan keluarga.
Tanpa terasa, kini saya hidup di sini. Di kota pelajar yang terkenal dengan makanan gudegnya. Ratusan kilometer terpisah dari keluarga membuat saya mengiris hati. Secara tak sengaja, sering terlintas bayangan-bayangan tentang orang tua dan saudara-saudara yang berada nun jauh di sana. Tapi tak mengapa, saya bangga menjadi salah seorang perantau dari keluarga saya. Kepergian kakak dan saya ke kota ini mengundang saudara-saudara kami yang lain untuk pula melanjutkan studinya di kota ini.
Sepupu saya, bimo, contohnya. Saat pertama kali ia kesini, ia langsung menyatakan rasa cintanya terhadap kota yang nyaman ini. Tanpa terasa sekarang ia sudah akan menghabiskan tahun pertama studinya di salah satu Universitas Swasta di Yogya. Kakak saya malah sudah meninggalkan kota ini sejak tahun 2010. Ia menjadi sarjana dan mendapatkan pekerjaan di Tangerang. Sebuah kota dengan cerita yang berbeda. Saya sendiri sedang memasuki tahun ketiga saya di sini. Sebentar lagi saya akan menjalani masa-masa KKN, bukan di Yogya, tapi di Bima. Sebuah kota di Nusa Tenggara Barat. Jikalau semua lancar, tahun depan saya akan menjalani masa skripsi dan semoga saya bisa lulus di akhir tahun depan. Orang tua sudah menanti, berikut juga mimpi-mimpi yang menunggu untuk diwujudkan.
Yogyakarta juga menyimpan sebuah kisah. Kisah cinta antara saya dan dia. Seorang wanita dari kota yang berjarak tiga jam dari sini. Mungkin waktunya di kota ini tak lama lagi. Tapi saya berjanji akan segera menyusulnya untuk kemudian pergi. Tapi entah suatu saat nanti, saya percaya kota ini memiliki sejuta alasan untuk dapat membuat saya kembali kesini lagi.
:)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar