Kalau aku tak salah menghitung, sudah 4 tahun sejak kami mengakhiri cerita itu.
Dan bagiku, rasanya masih sama.
Sakit.
Teman-temanku tahu seburuk apa aku dalam bercerita. Bertahun-tahun dengan cerita yang sama, mereka pun sudah tahu akhirnya seperti apa. Seorang laki-laki yang masih memikirkan mantan pacarnya setelah berpisah 4 tahun yang lalu. Bodoh, mereka bilang.
Dalam perjalanannya aku mencoba untuk mengobati luka dengan membiarkan pintu terbuka lebar-lebar. Bersiap dengan segala kemungkinan yang ada. Jikapun memang ada.
Berkali-kali aku mencoba menemukan, namun berkali-kali pun aku salah mengetuk pintu.
Dalam perhentiannya, aku tau hati kecil ini kembali mencoba menoleh ke belakang.
Aku tak tega. Aku tak tega untuk kembali. Merasa tak pantas untuk sebentuk jiwa, yang aku tahu dia bisa pergi sejauh apapun yang ia inginkan dan aku hanya menambatnya untuk tetap di sini. Walau sebenarnya aku ingin untuk terus ada dan menghabiskan waktu bersamanya. Entah di sini, di sana, atau di manapun aku tak peduli.
Sekali waktu aku menyampaikan, ku rindu. Namun, sepertinya ia tak suka.
Sejak saat itu, ia seakan menutup pintunya rapat-rapat. Menguncinya, lalu membuang kuncinya ke tempat terdalam di dasar bumi.
Aku mengetuk sekali, dua kali. Ada jawaban dari balik pintu, hanya untuk menyampaikan bahwa kuncinya sudah tiada, dan sia-sialah pintu ini untuk aku ketuk.
Ku kira sudah waktunya bagiku untuk memberinya jarak. Ruang dan waktu.
Bagusnya, itu memberiku kesempatan untuk kembali ke perjalananku yang sedikit berdebu.
Kembali mengumpulkan mimpi-mimpi yang sempat terserak dan mewujudkannya satu-satu.
Di tengah jalan dan beberapa persimpangan, hati ini selalu berbisik untuk kembali melawan waktu.
Begitu keras, walaupun aku sudah memaksakan langkah ini untuk terus maju.
Aku kira, ketika ia sudah memberikan hatinya kepada yang baru, aku baru bisa tenang untuk tidak kembali menoleh ke belakang.
Ternyata aku salah. Ada yang berhasil menemukan kunci pintunya.
Hatinya sudah di tempat yang baru, dan ternyata aku masih sesedih itu.
Sesedih itu.
Belakangan aku tahu hubungan mereka ternyata tidak berhasil.
Aku ingin kembali mengetuk pintu, tapi ku urungkan.
Mungkin ini saat yang tepat untuk kembali melanjutkan perjalananku.
Tapi kali ini aku menutup pintu milikku rapat-rapat.
Menguncinya, lalu membuang kuncinya ke tempat terdalam di dasar bumi.